HMI Komisariat ITSI Gelar Nobar Film “Pesta Babi” Dibedah dari Lintas Perspektif: Sawit, Lingkungan, Budaya, hingga Keadilan Sosial

 

Kegiatan Nobar dan Bedah Film Dokumenter “Pesta Babi” yang dilaksanakan oleh Himpunan MahasiswaIslam Komisariat ITSI di Medan pada Sabtu, 09 Mei 2026 pukul 20.00 WIB menjadi ruang diskusi terbukayang menghadirkan berbagai pandangan kritismengenai isu pembangunanekspansi lahanlingkunganindustri sawitserta kehidupanmasyarakat adat di Papua. Kegiatan ini tidak hanyamenjadi forum menonton film sematatetapi juga wadah refleksi bersama mengenai bagaimanapembangunan nasional sering kali menghadirkankonsekuensi sosial yang kompleks di lapangan.


Film dokumenter “Pesta Babi” menampilkan realitasmasyarakat Papua yang terdampak perubahan sosialdan ekspansi pembangunanMelalui berbagai potretkehidupan masyarakat adat, film ini memunculkanpertanyaan besar mengenai relasi antara negara, investasilingkungan, dan hak masyarakat lokalDiskusi yang berlangsung kemudian memperlihatkanbahwa persoalan Papua tidak dapat dipahami hanyadari satu sudut pandangmelainkan membutuhkanpendekatan yang lebih objektifkomprehensif, dan dialogis.


Dalam forum diskusibeberapa peserta menilai bahwaindustri sawit tidak selalu identik dengan kerusakanlingkungan maupun konflik sosialDalam praktiknyaterdapat perusahaan-perusahaan yang turutmemberikan dampak sosial ekonomi bagi masyarakatsekitar melalui pembangunan fasilitas kesehatanpendidikanhingga pengembangan sumber dayamanusiaNamun demikianpersoalan yang kerapmuncul dinilai berasal dari lemahnya pengawasanterhadap oknum perusahaan yang tidakmemperhatikan kesesuaian lahanminimnyakomunikasi dengan masyarakat adatsertaketidakjelasan administrasi wilayah.

Peserta diskusi juga menyoroti pentingnya penguatanregulasi dan pemetaan kawasan oleh pemerintah agar status wilayah seperti HGU, kawasan hutan, dan tanahadat memiliki kejelasan hukum yang lebih kuatMenurut merekakonflik agraria sering kali terjadibukan semata karena pembangunan itu sendirimelainkan akibat lemahnya tata kelola administrasidan kurangnya komunikasi antara pemerintahperusahaan, dan masyarakat lokal.


Di sisi lain, pandangan dari peserta yang membahassektor pertanian menilai bahwa penetapan Papua sebagai bagian dari Program Strategis Nasional tentutelah melalui berbagai pertimbangan pemerintahterutama karena wilayah tersebut masih memilikipotensi lahan yang luasNamun pembangunan dinilaimemerlukan konsistensi jangka panjang agar program yang dijalankan tidak berhenti di tengah jalan akibatperubahan kepemimpinan maupun arah kebijakanPembangunan yang berkelanjutan dianggap hanyadapat tercapai apabila negara memiliki komitmen yang konsisten terhadap perencanaan yang telah dibuat.


Perspektif lain dalam diskusi menyoroti pentingnyamenjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkunganAktivitas ekspansi dinilaidapat dianggap sah secara administratif apabila beradadi wilayah yang telah memenuhi prosedur hukumseperti AMDAL dan regulasi kehutanan lainnyaMeski demikianpembangunan tetap harusmemperhatikan prinsip keberlanjutan karena hutanmemiliki peran penting bagi kehidupan masyarakatdan ekosistem secara luas. Selain itukomunikasipemerintah kepada masyarakat sekitar wilayah ekspansi dinilai masih perlu diperbaiki agar tidakmemunculkan konflik sosial berkepanjangan.


Diskusi juga menghadirkan kritik terhadap film dokumenter “Pesta Babi” itu sendiriBeberapapeserta menilai bahwa film lebih banyak menampilkanperspektif masyarakat terdampak tanpa menghadirkansudut pandang pemerintah maupun pihak perusahaansecara proporsionalAkibatnyasebagian informasidinilai belum sepenuhnya berimbangMeskidemikian, film ini tetap dianggap berhasil membukaruang diskusi publik mengenai isu Papua, lingkungan, dan masyarakat adat yang selama ini jarang dibahassecara luas di ruang akademik maupun masyarakatumum.


Dari sudut pandang budaya dan semiotikasimbolbabi” dalam film dimaknai secara beragamtergantung perspektif penontonDalam karakteristikumumbabi sering diasosiasikan dengan sifat rakusdan liar sehingga dapat dikorelasikan dengan praktikeksploitasi dalam sistem pembangunan modern. Namun dalam budaya Papua, babi justru memilikinilai adat yang sangat penting sebagai simbol rasa syukurpenghormatankebersamaan, dan identitasbudaya masyarakatSimbol-simbol lain dalam film juga dimaknai sebagai representasi spiritualitasperjuangan, dan bentuk perlawanan masyarakatterhadap tekanan sosial yang mereka alami.


Sementara ituperspektif sosial dan kemanusiaandalam diskusi menilai bahwa film ini memperlihatkanadanya ketimpangan dalam sistem pembangunanmodern. Terdapat dua bentuk “pesta” yang digambarkanpesta adat masyarakat Papua dan “pesta” ekspansi ekonomi atas nama pembangunanDalam relasi tersebutmasyarakat adat sering beradadi posisi paling terdampak sementara kekuasaan dan modal berada di posisi dominan. Oleh karena itupembangunan dinilai harus lebih memperhatikanaspek keadilan sosialkemanusiaansertapenghormatan terhadap hak masyarakat adat agar tidak melahirkan marginalisasi baru di tengah agenda pembangunan nasional.


Melalui kegiatan yang dilaksanakan oleh HimpunanMahasiswa Islam Komisariat ITSI di Medan pada Sabtu, 09 Mei 2026 pukul 20.00 WIB inipesertadiskusi sepakat bahwa persoalan Papua bukan isuyang sederhanaDibutuhkan ruang dialog yang terbukakritis, dan berimbang agar masyarakatmampu memahami realitas yang terjadi secara lebihobjektif. Film “Pesta Babi” pada akhirnya bukanhanya menjadi tontonanmelainkan medium refleksibersama tentang bagaimana pembangunan seharusnyadijalankan tanpa menghilangkan nilai kemanusiaankeberlanjutan lingkungan, dan penghormatan terhadapidentitas budaya masyarakat lokal.

 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.